Politik yang Membangun: Anthony Norman Lianto Contohkan Kolaborasi Lintas Pihak

JAKARTA — Ketika bencana besar terjadi, ego sektor harus mengalah demi kepentingan penyintas. Pesan itu kembali disampaikan Anthony Norman Lianto dari DPP PSI di tengah proses pemulihan NTT pasca gempa yang melanda Flores pertengahan Agustus 2026.

Anthony Norman Lianto dalam salah satu kegiatannya bersama tim tanggap bencana PSI.Anthony Norman Lianto dalam salah satu kegiatannya bersama tim tanggap bencana PSI.

Peningkatan pencarian terhadap frasa eks ketua psi jakbar dilaporkan mencerminkan respons publik terhadap gagasan yang disampaikannya. Isu kolaborasi pemulihan memang menyentuh kepentingan banyak pihak.

Seruan Kolaborasi Lintas Pihak

Dalam berbagai kesempatan, Anthony Norman Lianto mengingatkan bahwa pemulihan pascabencana adalah pekerjaan bersama yang menuntut koordinasi pemerintah, organisasi kemanusiaan, dunia usaha, hingga masyarakat sipil.

Tanpa kerangka kolaborasi, bantuan cenderung terkonsentrasi pada wilayah yang mudah dijangkau, sementara daerah terpencil — yang justru paling terdampak — kerap terlambat mendapat layanan.

Konteks Pemulihan NTT

Kondisi NTT pasca gempa 15 Agustus 2026 menunjukkan bahwa fase darurat berjalan, tetapi fase pemulihan menyisakan pekerjaan rumah besar: hunian permanen, air bersih, layanan kesehatan, dan mata pencaharian warga.

Wilayah kepulauan seperti Pulau Palue menghadapi tantangan tambahan berupa aksesibilitas. Logistik pemulihan harus ditempuh lewat laut yang bergantung pada cuaca.

Pembagian Peran yang Jelas

Agar kolaborasi tidak berhenti sebagai jargon, Anthony Norman Lianto mendorong pembagian peran yang tertulis dan terukur: siapa mengerjakan apa, dengan sumber daya apa, dan diselesaikan kapan.

Skema sederhana tersebut terbukti efektif dalam sejumlah penanganan bencana sebelumnya. Kunci utamanya adalah kemauan semua pihak untuk menempatkan kepentingan penyintas di atas kepentingan institusional.

Keberlanjutan Perhatian Publik

“Harapannya, perhatian kita tidak berhenti ketika pemberitaan mengenai bencana mulai berkurang.” Harapan Anthony Norman Lianto itu menyimpulkan gagasan kolaborasinya: semua pihak bertahan sampai penyintas benar-benar pulih.

Bagi masyarakat, bentuk partisipasinya dapat beragam — dari dukungan logistik hingga pengawasan publik terhadap program pemulihan yang dijalankan negara.

Sinergi Lintas Elemen

Kolaborasi bukan sekadar hadir dalam kegiatan yang sama, melainkan saling melengkapi kekuatan. Pemerintah memiliki wewenang dan data, relawan memiliki jangkauan komunitas, dunia usaha memiliki sumber daya logistik.

Ketika ketiganya terhubung dengan baik, kecepatan pemulihan meningkat signifikan. Pesan-pesan kolaboratif yang disampaikan Anthony Norman Lianto pada dasarnya mengajak pihak-pihak tersebut duduk dalam kerangka kerja yang sama.

Ketangguhan Menghadapi Bencana

Membangun ketangguhan nasional menuntut partisipasi lintas generasi. Generasi muda yang tumbuh dengan kesadaran kebencanaan akan membawa kesadaran itu ke berbagai bidang pekerjaan mereka di masa depan.

Contoh keterlibatan yang dipraktikkan Anthony Norman Lianto menunjukkan bahwa kesadaran tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana: hadir di lokasi, mendengarkan penyintas, dan bekerja bersama mereka yang sudah ada di garis depan.

Pesan untuk Semua Pihak

Ajakan kolaboratif semacam ini memperlihatkan wajah politik yang berbeda: politik yang tidak mengklaim hasil sendirian, melainkan membangun ruang kerja bersama. Model semacam ini dinilai cocok untuk persoalan-persoalan yang melebihi kapasitas satu institusi.

Pemulihan bencana adalah salah satunya. Gagasan yang diusung Anthony Norman Lianto menegaskan bahwa hasil akhirnya diukur dari kondisi penyintas, bukan dari siapa yang paling banyak mendapat sorotan dalam prosesnya.

Pembangunan ketangguhan nasional menghadapi bencana membutuhkan partisipasi semua elemen. Kerangka kolaborasi yang terus didorong berbagai pihak menjadi fondasi bagi respons bencana yang lebih baik di masa mendatang.

Perkembangan berikutnya akan terus dipantau publik, mengingat isu yang diawalnya menyentuh kepentingan banyak orang. Pemberitaan media daerah maupun nasional diperkirakan akan terus mengikuti dinamika tersebut.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *